Bagia Nufandira

BELAJAR DARING FOKUS PADA TUGAS, SEMENTARA MASALAH ADAB TERABAIKAN

foto

Bentar Wibisana

“THIS is the best it can do”, itulah ungkapan dari Bagia Nufandira, siswa kelas XII Mipa 2 saat ditanya tentang pembelajaran secara dalam jaringan (daring). “Saya melihatnya belajar daring seperti itu. Ini yang terbaik yang bisa kita lakukan,” tutur Gia sapaan akrabnya.

Menurut Gia, dengan kondisi seperti sekarang mau berbuat apa lagi yang bisa dilakukan, selain harus mengikuti segala aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, termasuk sekolah harus melaksanakan pembelajaran secara jarak jauh (PJJ).

Suka atau tidak, tandas Gia, itu sudah menjadi aturan. Namun, dari belajar daring ini ternyata masalah penanaman akhlak sulit dilaksanakan. Padahal tujuan pendidikan berdasarkan UU No. 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 3 menyebutkan tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan bertanggungjawab.

“Jelas di situ diuraikankan bahwa tujuan pendidikan untuk membuat individu yang berakhlaqul karimah, dan bertakwa,” kata Gia seraya menambahkan, sangat disayangkan dengan belajar daring ini yang fokusnya hanya pada tugas, karena esensinya belajar itu untuk adab atau ta’dib, tidak hanya sekadar transfer ilmu, untung di SMAN 1 Lembang yang hanya menerapkan 3 mata pelajaran per hari dan membatasi tugas yang hanya dikerjakan pada saat pembelajaran, sehingga tidak terlalu banyak membebankan siswa.

Menurut Gia, dirinya sangat menyayangkan sekali jika hari ini belajar harus daring, sementara dengan adanya new normal ini tempat-tempat wisata dimana-mana dibuka, seolah-olah kembali normal. Pendidikan menjadi nomor 2. “Ironisnya lagi masyarakat juga banyak yang tidak paham, sehingga new normal ini benar-benar kembali normal. Wajar saja, khususnya di Jawa Barat jika peningkatan kasus corona ini begitu meningkat,” ujarnya.

Artinya ketika tempat pariwisata itu dibuka, tutur Gia, berarti akan membludak orang dari luar datang, jika pendidikan dibuka juga rasanya sangat riskan. Jadi jangan sampai wisata dibuka, menutup peluang pendidikan dibuka. Jadi kalau bisa harus berjalan secara seimbang, karena perekonomian juga harus tumbuh, tetapi kita sebagai generasi muda yang menuntut ilmu sebagai bibit-bibit penerus bangsa jangan sampai dibiarkan.

“Jadi kalau pendidikan dibuka bisa dengan cara disesi dengan aturan protocol kesehatan yang sangat ketat,” pungkasnya.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui
Berita Lainnya