"3 Besar", Hanief, Shalsabilla dan Raul

Kemas "ATMA ASTA" Hingga Mengundang Dercak Kagum

  • Rusyandi
  • Jumat, 15 November 2019 | 00:47 WIB
foto

Rusyandi


TIDAKLAH berlebihan jika perhelatan akbar dari siswa-siswi SMA Negeri 8 yang dikemas dalam bentuk pentas seni (Pensi) ATMA ASTA berjuluk “RATETRA” , sebagai pensi sekolah yang paling bergengsi di tahun 2019. SMA Negeri 8 yang berlokasi di Jl. Selontongan No. 3 Kota Bandung ini, selain berlebel sekolah favorit, juga terkenal dengan kegiatan pensinya yang spektakuler setiap tahunnya.


Selain eksis untuk menjadi yang terbaik dalam setiap kegiatan pensinya, siswa-siswi SMA Negeri 8 ini kerap memperhatikan kualitas acaranya. Terbukti dari kafasitas pensi ATMA ASTA yang digelar di Lapangan Pussenif TNI-AD, Sabtu (12/10/2019 dari berbagai sisi mulai dari acara, panggung sampai menghadirkan artis-artis top papan atas Indonesia sangat diperhitungkan sedemikian rupa hingga mengundang dercak kagum dan takjub.


Menurut Ketua Pelaksana pensi ATMA ASTA, M. Hanief Fauzan,ATMA ASTA tahun ini memang sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada ATMA ASTA kali ini kita mengusung tentang peradaban Mesir. Kenapa peradaban Mesir? Karena di Mesir itu ada sebuah cerita tentang seorang Dewa bernama Ra yang turun ke bumi, dan menjelma sebagai manusia.


“Dewa Ra itu merelakan keabadiannya menjadi manusia biasa dan membangun peradaban Mesir sampai menjadi negeri mencapai puncak kejayaannya,” kata Hanief seraya menambahka, jadi yang kita ambil itu kebangkitannya, sehingga dalam ATMA ASTA 2019 ini bertajuk “RATETRA” yang berasal dari Dewa Ra.


Hanief yang kini duduk di kelas XII MIPA-6 ini menjadi orang nomor satu dalam event sebesar ATMA ASTA yang memerlukan dana miliaran rupiah itu sedikit banyaknya menjadi beban, karena harus mengonisir dalam penggalangan dana demi menutupi kebutuhan anggaran acara yang cukup besar. Namun bagi dirinya justru beban tersebut menjadi tantangan bagaimana acaranya bisa berjalan sukses dan lancar tanpa ada hambatan apapun.


“Jika gelaran ATMA ASTA itu dikatakan berhasil, ya aku sih merasa bersyukur. Memang itulah harapan aku bersama rekan-rekan yang tergabung dalam kepanitiaan agar ATMA ASTA ini bisa berjalan sesuai dengan yang diinginkan,” tuturnya.


Menurut Hanief, alhamdulillah dari acara itu kita mendapat untung. Keuntungan itu kita sisihkan untuk syukuran, perpisahan kelas XII ke Dupan, perpisahan panitia inti, membantu yayasan yatim piatu, infak ke masjid sekolah, aula sekolah, dan diberikan untuk kas dana awal untuk pelaksanaan ATMA ASTA tahun berikutnya.


“Aku ingin warga SMAN 8 dan seluruh panitia lebih solid, karena ATMA ASTA ini selain tujuannya pembelajaran, juga ajang silaturahmi antara guru, alumni dan senior,” katanya.


Harapan Hanief, ATMA ASTA tahun depan bisa lebih baik dan sukses lagi dari tahun sekarang. “Ya bisa lebih megah dengan konsep acara yang unik lagi, dan diberikan kemudahan oleh Allah SWT yang akan dilaksanakan oleh adik-adik kelas nanti,” harap Hanief.


Senada dengan M. Hanief Fauzam, Wakil Ketua II, Shalsabilla Sylvannia D mengungkapkan rasa syukurnya, karena ATMA ASTA bisa berjalan lancar dan sukses. “Aku sendiri enggak kepikiran bakal masuk jadi 3 besar di kegiatan ATMA ASTA atau sebagai wakil ketua II,” tuturnya.


Gadis imut yang akrab disapa Caca ini menyebutkan, dalam 3 besar dikepanitiaan hanya dirinyalah cewek satu-satunya. “Awalnya aku mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri, karena mereka itu mikirnya lebih ke logika, sedangkan aku lebih ke perasaan. Dari awal aku mikir enggak bakalan sesusah ini. Aku bayangin kalau wakil ketua itu nyantai kerjanya, ternyata tidak juga,” ujarnya.


Di awal-awal proses, sebut Caca, dirinya banyak menangis bukannya kerja. Apalagi dirinya dengan Hanief dan Raul tidak begitu dekat, dan merasa dekat setelah masuk dalam 3 besar. “Aku sangat berterimakasih kepada teman-teman yang sudah membantu dan bekerja bareng untuk menyukseskan acara ATMA ASTA,” katanya.


Bagi Caca gelaran ATMA ASTA ini menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga, karena dari ATMA ASTA ini dirinya bisa mengendalikan emosi dan bisa menghargai orang lain, dan tahu cara menghadapi orang lain.


Sementara itu, M. Raul Zahran W, wakil ketua I mengatakan, mulai dari proses ATMA ASTA hingga selesai banyak banget pembelajaran, terutama di event. Ternyata membikin event itu enggak gampang, dan kita sebagai orang awam melihat bikin event itu seperti gampang, tetapi dalam pelaksanaannya cukup sulit.


Banyak masalah yang muncul, baik internal maupun ekternal, aku Raul, karena panitia masih siswa. “Jadi tantangan buat aku, Hanief dan Caca sebagai 3 besar adalah buat menggerakan mereka. Mungkin karena kita sama-sama siswa, sehingga ketika menyuruh tidak sepenuh ngikutin perintah, ada yang malas ada juga yang setengah-setengah.


Jika hal itu masih terjadi, menurut Raul, sangatlah wajar, karena kita bukan professional, dan membuat acara yang skalanya sama dengan EO professional. “Alhamdulillah kita bisa menghadapinya selama proses pelaksanaan,” ujar Raul.


Diungkapkan Raul, bagi adik-adik kelas yang terlibat dikepanitiaan ATMA ASTA tahun ini bisa menjadi bekal mereka buat pembelajaran untuk tahun depan. Sehigga ATMA ASTA berikutnya bisa lebih sukses, dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan dan bisa mendapat pembelajaran dari kita.

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui
Berita Lainnya