TUJUH STRATEGI PEMBELAJARAN KOMPLEMENTER: TETAP SEMANGAT DI SAAT DARURAT

  • Rusyandi
  • Selasa, 18 Agustus 2020 | 23:11 WIB
foto

ist

CORONA Virus Disease 19 (Covid-19) tiba-tiba datang menghampiri, menghentak, mengejutkan semua pihak. Kedatangannya yang sangat cepat dan tidak terduga membuat bangsa di seluruh dunia terhenyak dalam kegagapan, ketidaksiapan untuk bertempur dengan musuh yang datang secara mendadak. Mahluk kecil yang tidak terlihat ini pun mampu memporak-porandakan semua sendi kehidupan manusia di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Semua sektor kehidupan terkena dampak Covid-19. Sektor perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, perhubungan, kesehatan, sektor agama, seni budaya dan lain sebagainya termasuk dunia pendidikan mengalami goncangan yang sangat hebat karena Covid-19 ini. Pemerintah mengambil berbagai kebijakan yang pada intinya adalah dalam rangka mengendalikan laju penularan wabah penyakit ini. Dunia Pendidikan menjadi salah satu sektor yang pertama kali “diamankan” dengan “menggiring” semua peserta didik masuk ke dalam rumah. Tepatnya tanggal 16 Maret 2020, terutama di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat, semua kegiatan pembelajaran tatap muka dihentikan.

Belajar dari rumah. Inilah salah satu point penting kebijakan yang diambil pemerintah. Kebijakan ini sebagai langkah strategis pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menyelamatkan dan menjaga kesehatan anak-anak sebagai calon generasi penerus pembangunan bangsa. Belajar dari rumah. Sebuah frasa baru yang sebagaimana halnya Covid-19 tiba-tiba datang, menghentak dan memaksa kita untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Jika biasanya belajar itu di sekolah, berkumpul dalam suatu ruangan kelas, duduk di kursi dengan rapi di bloknya masing-masing, ada meja, ada papan tulis, ada jam istirahat, ada guru yang datang ke kelas silih berganti, ada teman-teman, ada kerja kelompok, ada diskusi, dan lain sebagainya, sekarang tiba-tiba semua itu menjadi lenyap, hilang dan tidak ada lagi. Yang ada sekarang adalah sebuah realita baru, yang mau tidak mau, siap tidak siap harus dihadapi dengan segala keterbatasan.

Tidak siap, gamang, bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan adalah reaksi awal ketika realita ini benar-benar ada di depan mata. Terlebih belum genap satu semester dunia pendidikan masih mencoba mencerna, memahami, melaksanakan setahap demi setahap dengan terseok dan tertatih tentang sebuah konsep yang oleh “Mas Menteri” disebut sebagai Merdeka Belajar. Tiba-tiba wabah ini hadir dan memaksa dunia pendidikan untuk benar-benar melaksanakan pembelajaran seperti dalam konsep merdeka belajar. Sehingga guru sebagai pengelola pembelajaran harus segera mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Tidak ada kata nanti dulu, tetapi saat ini harus segera dilaksanakan. Maka terjadilah proses pembelajaran jarak jauh. Sebuah proses pembelajaran yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini memang tidak mudah, namun semua harus memiliki semangat untuk tetap bersama-sama mengayuh sampan sehingga kapal besar ini akan tetap bisa bergerak dan tidak tenggelam di lautan badai Covid-19.

Solusi pembelajaran jarak jauh yang sampai saat ini sudah dilaksankan adalah dengan pembelajaran dalam jaringan (daring/online), melalui berbagai aplikasi seperti WA grup, Telegram grup, Google Classroom, Edulogy, Edmodo, media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan Youtube. Namun dalam praktiknya di lapangan, tidak semua peserta didik mampu menjangkau semua fasilitas tersebut. Di Kabupaten Sumedang dalam data sementara yang dimiliki Dinas Pendidikan menunjukkan hanya 31% peserta didik yang dapat mengikuti pembelajaran daring secara baik.

Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang yang dimotori oleh Kepala Dinas, Bapak H. Agus Wahidin, S.Pd., M.Si, mencoba mencari solusi untuk menjawab permasalahan tersebut. Sebagai kepala dinas yang memiliki latar belakang dunia pendidikan, tentu beliau sangat memahami kondisi pendidikan di tengah pandemi seperti saat ini. Dalam idealisme yang selalu beliau tularkan kepada berbagai kalangan di dalam berbagai kesempatan, bahwa pendidikan itu harus adil, merata dan menjangkau semua. Namun idealisme tersebut tidak mendapatkan wujudnya di dalam metode pembelajaran yang hanya mengandalkan atau berbasis online saja.

Kegundahan dan kegelisahan beliau, akhirnya berlabuh pada sebuah ide cerdas, cemerlang, dan brillian yang oleh beliau kemudian diberi tajuk: “Strategi Komplementer 7 (Tujuh) Metode Pembelajaran Masa Darurat Covid-19”. Beliau berharap bahwa 7 strategi yang beliau racik ini akan mampu memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik diseluruh kabupaten Sumedang secara adil, merata dan menjangkau semua.

Maksud dari Strategi Komplementer 7 (Tujuh) Metode pembelajaran Masa Darurat Covid-19 adalah bahwa strategi ini merupakan kombinasi antara metode pembelajaran dalam jaringan (daring) dengan metode pembelajaran luar jaringan (luring), yang sifatnya saling melengkapi, saling mengisi dengan pembobotan tertentu disesuaikan dengan situasi, kondisi dan karakteristik sekolah masing-masing. Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, lebih jauh menjelaskan bahwa: saling melengkapi dengan pembobotan yang berbeda pada setiap satuan pendidikan adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh satuan pendidikan untuk menerapkan secara keseluruhan 7 (Tujuh) metode tersebut di atas dengan proporsi yang seimbang, atau kemampuan yang dimiliki oleh satuan pendidikan hanya mampu menerapkan sebagian besar atau sebagian kecil dari 7 (Tujuh) metode tersebut di atas dengan pembobotan yang lebih terhadap metode yang dapat dilakukan tersebut sebagai bentuk kompensasi dari tidak dapat dilaksanakannya salah satu metode karena alasan keterbatasan tertentu (Agus Wahidin, 2020).

Melalui penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa setiap sekolah dapat menyesuaikan diri dengan menerapkan seluruh atau sebagaian dari metode tersebut yang disesuaikan dengan kondisi di masing-masing satuan pendidikan. Adapun ketujuh metode tersebut adalah (Agus Wahidin, 2020):

1. Pembelajaran virtual; adalah metode pembelajaran daring berbentuk pertemuan tatap muka secara virtual antara guru dengan peserta didik, yang memanfaatkan aplikasi-aplikasi seperti Zoom, Cisco Webex, Google Meet atau aplikasi sejenis lainnya.

2. Pembelajaran tematik terintegrasi berbasis proyek; adalah metode pembelajaran yang mengintegrasikan semua mata pelajaran yang memiliki kompetensi inti dan kompetensi dasar yang saling beririsan, sehingga membentuk tema tertentu dengan output berupa sebuah proyek yang dihasilkan oleh peserta didik.

3. Pembelajaran melalui modul / LKS; Adalah metode pembelajaran yang memanfaatkan modul/lembar kerja siswa yang telah dibuat oleh guru sebagai bahan atau panduan bagi peserta didik dalam belajar/mengerjakan tugas sehingga efektif dan terukur.

4. Home visit; adalah metode pembelajaran berupa kunjungan guru ke rumah/daerah/wilayah tertentu dimana peserta didik berada, baik secara individu maupun kelompok kecil. Home visit ini dilakukan terutama bagi peserta didik yang mengalami kendala dalam mengikuti pembelajaran secara daring.

5. Televisi/radio dan media lainnya; adalah metode pembelajaran yang memanfaatkan media televisi/radio atau media lainnya, yang bisa diakses peserta didik secara terjadwal, baik dari siaran televisi lokal maupun siaran televisi nasional.

6. Grup media sosial; adalah metode pembelajaran secara daring dengan memanfaatkan jejaring sosial baik aplikasi chatting maupun media sosial secara umum. Adapun aplikasi yang bisa digunakan seperti WA grup, Telegram grup, jejaring Facebook, Instagram maupun Twitter. Disamping itu kelas pembelajaran bisa juga dengan menggunakan aplikasi Google Classroom, Edmodo, Eduglogy atau aplikasi lainnya yang sejenis.

7. Penugasan berkala dan terukur; adalah metode pemberian tugas untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran, membuat kesimpulan hambatan atau kendala yang terjadi selama proses pembelajaran. Metode ini dapat juga difungsikan sebagai penilaian harian, penilaian tengah semester atau penilaian akhir semester.

Melalui tujuh strategi komplementer dalam pembelajaran tersebut, Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang sangat berharap akan ada sebuah semangat bersama, akan ada sebuah gerakan bersama untuk tetap memberikan hak pendidikan terbaik kepada para peserta didik. Tetap semangat di masa darurat adalah energi yang selalu beliau suntikan terutama kepada seluruh guru yang ada di Kabupaten Sumedang. Jika mengutip sebuah istilah dari seorang penulis hebat bahwa: “wabah corona boleh menghajar, tetapi ilmu harus tetap di kejar dan semangat belajar tidak boleh ambyar (Idris Apandi, 2020)”. Semoga**


Penulis: Tia Setiawati, S.Sos.,M.Pd.,
Guru PPKn SMP Negeri 1 Cimalaka, Sumedang

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui
Berita Lainnya